Sastra Malin Kundang Batu Menangis

Image Source https://widdiia.wordpress.com/2013/12/23/ibu-oh-ibu/

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu

10 Maret 2016

fiqhmenjawab.net ~ Sering kita mendengar hadis Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa; “Surga itu di bawah telapak kaki ibu” yang seolah jika dipahami secara tekstual seperti keindahan surga yang di dalamnya indah mengalir sungai itu ada di bawah telapak kaki seorang wanita yang melahirkan kita.
Hadis tersebut adalah kata kiasan yang mengabarkan betapa kita wajib mentaati dan berbakti pada seorang ibu, mendahulukan kepentingannya mengalahkan kepentingan pribadi hingga diibaratkan letak diri kita bagaikan debu yang ada dibawah telapak kakinya bila kita ingin meraih surga.Dikutip dari http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/maksud-dari-hadis-surga-telapak-kaki-ibu/

Image Source Pinterest

Mari kita simak sejauh dan setinggi apakah makna dari kata kiasan ” Surga ada di bawah telapak kaki Ibu”

Kembali kita bercermin pada Sastra Lama yaitu Dongeng ,Legenda atau Mitos,sejarah rakyat bukan untuk disimpan dan ditinggalkan begitu saja. Pada hakikinya dia bagaikan sebuah tongkat selfie

Pada umumnya disaat kita terdiam dalam kesendirian,kesepian ,pikiran kita akan menerawang jauh kebelakang.Sebuah kerinduan kepada Ibunda yang telah pergi jauh ke Surga.Tidak dipungkiri kita pernah menyakiti hati Beliau,akan tetapi waktu telah berlalu.Sungguh menyakitkan ,kita tidak dapat memperbaikinya lagi .Sebuah penyesalan selalu datang pada akhir.(Pare)

Dongeng ( Sastra Kuno )

Dongeng adalah bentuk sastra lama yang berupa cerita khayalan(fiksi) yang merupakan bentuk prosa lama.(Kamis, Oktober 08, 2015 http://www.kuliah.inf

Dari dongeng cerita rakyat inilah kita bisa memetik makna yang tersirat didalam kalimat mutiara “Surga ada di bawah telapak kaki Ibu” (Pare)

Batu Menangis

Image Source Pinterest https://id.pinterest.com/paredevini12/rock-adventure/

Image Source Pinterest https://id.pinterest.com/paredevini12/rock-adventure/

Budaya dan Cerita Rakyat – Lengenda Batu Menangis-Kisah sejarah dari Kalimantan Barat Konon katanya, batu yang mengeluarkan air mata ini merupakan perwujudan dari seorang gadis jelita

Legenda Batu Menangis menceritakan tentang kisah kehidupan seorang janda miskin yang hidup berdua dengan anak gadis semata wayangnya yang jelita bernama Darmi. Mereka tinggal disebuah gubuk di wilayah terpencil di Kalimantan Timur, yang berbatasan langsung dengan serawak, Malaysia Timur. Kehidupan mereka diapit oleh ratusan sungai baik besar maupun kecil.

Kehidupan Sang Janda dan Darmi anaknya memang sangat kekurangan. Sang suami telah dahulu berpulang kepangkuan Sang Maha Kuasa tanpa meninggalkan warisan apapun kepada kedua orang tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan, sang Ibu harus membanting tulang bekerja di sawah milik orang lain sebagai buruh upahan.

Biasanya anak yang lahir dari keluarga sederhana cenderung mengerti dengan keadaan orang tuanya. Akan tetapi tidak demkian dengan Darmi. Meski melihat kondisi keluarga dengan ekonomi yang minim, ternyata tidak membuatnya bergeming untuk turut membantu sang Ibu. Ia malah asik bersolek sepanjang hari untuk mempertahankan kecantikan wajahnya.

Ternyata kesulitan hidup yang seharusnya membuat Ia kuat malah membuatnya semakin pemalas dan tergantung kepada sang bunda. Alih-alih menolong pekerjaan ibunya. Darmi hanya berpangku tangan dan tidak sungkan untuk merengek meminta apapun yang Ia inginkan kepada ibunya. Terlebih untuk urusan perlengkapan dandan, Ia akan merengek agar bisa membeli alat kecantikan yang semakin mempercantik dirinya itu.

Ajakan Ibunya agar membantu pekerjaannya di sawah, selalu ditolaknya dengan berbagai alasan. Namun ia selalu menjadi orang pertama yang meminta uang yang diperoleh sang ibu jika sudah mendapatkan upah. Uang yang seharusnya dipergunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, dirampasnya untuk membeli perlengkapan dandan. Sang Ibu pun tak mampu berbuat banyak dengan paksaan dan bentakan yang dilakukan Darmi. Ia hanya mengelus dada melihat tingkah anak semata wayangnya itu

Namun Tuhan pun akhirnya membalas kedurhakaan Darmi. Pada suatu hari, ibunya hendak ke pasar Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi ibunya tidak tahu alat kencantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut kepasar.“Kalau begitu ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.
“Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan ibunya. “Tapi Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru ibunya.

Akhirnya setelah di desak beberapa kali, Darmi pun mau mengikuti kata sang ibu. Namun kedurhakaannya tetap saja tidak hilang. Ia mau kepasar jika sang ibu mau berjalan di belakangnya. Ia beralasan malu jika orang lain mengetahui bahwa sang Ibu adalah ibu kandungnya.
“Memang kenapa , Nak!” tanya Ibunya penasaran
“Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan ibu,” jawab Darmi.
“Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu.
“Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu” seru Darmi dengan nada merendahkan Ibunya.

Mendengar kata-kata sang anak, Ibu sontak menjadi sangat sedih. Namun tetap saja Ia menuruti. Kata-kata putrinya itu.

Setelah itu, berangkatlah mereka secara beriringan. Si Darmi berjalan didepan, sedangkan Ibunya mengikuti dari belakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penempilan mereka sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama.

Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan.

Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.
“Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu.
“Kepasar!” jawab Darmi dengan pelan. “Lalu siapa orang di belakangmu itu? Apakah di ibumu? tanya lagi temenya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang. “Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku” Darmi dengan nada sinis.

Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju kepasar. Tidak beberapa lama berjalan mereka bertemu lagi dengan seseorang.“Hei Darmi! Hendak kemana kamu?” tanya orang itu.
“Hendak kepasar,” jawab Darmi singkat
“Siapa yang dibelakangmu itu?” tanya lagi orang itu.
“Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertayaaan-pertanyaan itu.

Jawaban yang di lontarkan Darmi itu membuat hati ibunya sangat sedih. Tapi, sang ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti lalu duduk dipinggir jalan.
“Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran.
Kembali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian Darmi melihat mulut ibunya komat-kamit menengadahkan kedua tangan ke atas.
“Hai, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak.Sang Ibu tatap saja tidak mau menjawab pertanyaan anaknya, Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.“Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yan lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu..Darmi pun mulai panik.“Ibu …! Ibu …! Apa yang tejadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil teriak.“Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulangi lagi, Bu!” seru Darmi semakin panik.

Sayangnya kutukan itu tidak bisa ditarik kembali. Darmi harus menerima nasibnya setelah dikutuk oleh ibunya.

Tiba-tiba tubuhnya mengeras dan berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga kepala. Darmi hanya bisa menangis dan menyesal telah melukai hati Ibunya.

Semua orang yang menyaksikan perubahan itu tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah sekujur tubuh Darmi menjadi batu, cuaca tiba-tiba kembali cerah seperti sebelumnya. Batu jelmaan Darmi kemudian diletakan di pinggir jalan bersandar ketebing oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

Meski kebenaran tentang Legenda Batu Menangis ini masih menjadi tanda tanya, namun batu yang kini bersandar di tebing itu akan menjadi pelajaran bahwa murka seorang ibu akan membuat Tuhan juga murka. Sayangilah Ibumu, Ayahmu, karena hanya mereka bisa menerimamu apa adanya di dunia ini.Seperti yang dilansir dari https://nusantaralogin.blogspot.co.id/2014/02/kisah-legenda-batu-menangis.html?m=1

Malin Kundang

Image Source Pinterest https://id.pinterest.com/paredevini12/rock-adventure/

Cerita dongeng Malin Kundang merupakan cerpen cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat. Dongeng cerita rakyat malin kundang sangat lah terkenal di bumi pertiwi. Selain diceritakan secara turun temurun video cerita malin kundang juga sudah dibuat dalam berbagai versi.

Pada zaman dahulu di sebuah perkampungan nelayan Pantai Air Manis di daerah Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Mande Rubayah amat menyayangi dan memanjakan Malin Kundang. Malin adalah seorang anak yang rajin dan penurut.

Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan ia dan anak tunggalnya. Suatu hari, Malin jatuh-sakit. Sakit yang amat keras, nyawanya hampir melayang namun akhirnya ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi. Kini, Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.

Image Source Pinterest https://id.pinterest.com/paredevini12/rockadventure/

Image Source Pinterest https://id.pinterest.com/paredevini12/rock-adventure/
Image Source Pinterest https://id.pinterest.com/paredevini12/rock-adventure/

“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” kata Malin sambil menggenggam tangan ibunya.“Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon. “Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis. Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus, “Untuk bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Setelah itu berangkatiah Malin Kundang ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian.

Hari-hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut, “Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya dalam hati sambil terus memandang laut. la selalu mendo’akan anaknya agar selalu selamat dan cepat kembali.

Beberapa waktu kemudian jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. “Apakah kalian melihat anakku, Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?” tanyanya. Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah mendapatkan jawaban. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin tua, kini ia jalannya mulai terbungkuk-bungkuk. Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda dulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik, putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya,” ucapnya saat itu.Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya, sinar keceriaan mulai mengampirinya kembali. Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar Malin dari nahkoda itu, Malin tak kunjung kembali untuk menengoknya.

“Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang…,” rintihnya pilu setiap malam. Ia yakin anaknya pasti datang. Benar saja tak berapa lama kemudian di suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang megah nan indah berlayar menuju pantai. Orang kampung berkumpul, mereka mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkiiauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah. Mande Rubayah juga ikut berdesakan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras saat melihat lelaki muda yang berada di kapal itu, ia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anaknya, Malin Kundang. Belum sempat para sesepuh kampung menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. la langsung memeluknya erat, ia takut kehilangan anaknya lagi.“Malin, anakku. Kau benar anakku kan?” katanya menahan isak tangis karena gembira, “Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?” Malin terkejut karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang—camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Wanita jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!” ucapnya sinis, “Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?!” Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke pasir, “Wanita gila! Aku bukan anakmu!” ucapnya kasar.

Mande Rubayah tidak percaya akan perilaku anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak?!” Malin Kundang tidak memperdulikan perkataan ibunya. Dia tidak akan mengakui ibunya. la malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, wanita gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!” Wanita tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati.

Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Ia tak menyangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Hatinya perih dan sakit, lalu tangannya ditengadahkannya ke langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu, “Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafhan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Tuhan!” ucapnya pilu sambil menangis. Tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Laiu sambaran petir yang menggelegar. Saat itu juga kapal hancur berkeping- keping. Kemudian terbawa ombak hingga ke pantai.

Esoknya saat matahari pagi muncul di ufuk timur, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu karena telah durhaka. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

Sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia, terkadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri, “Ampun, Bu…! Ampuun!” konon itulah suara si Malin Kundang, anak yang durhaka pada ibunya.

Pesan moral dari Cerita Dongeng Malin Kundang (Cerita Rakyat SumBar) adalah Hormatilah ibumu dan jangan perna mendurhakainya.Dilansir dari http://dongengceritarakyat.com/cerita-dongeng-malin-kundang-cerita-rakyat-sumbar/

*Misteri Batu Malin Kundang terpecahkan di Oxford University

London, 05 Oktober 2007

Para ilmuwan di Univeritas Oxford baru-baru ini telah memecahkan misteri batu Malin
Kundang di tanah Minang.

Sekian lama batu yang menyerupai sosok tokoh Malin Kundang tersebut, dalam cerita
rakyat Minang, diyakini hanya merupakan cerita legenda belaka.

Namun para ahli sekarang telah mengetahui bahwa batu tersebut diawetkan dengan
formula canggih -khas resep indonesia- yang kehebatannya melebihi ramuan para Mummi dari Mesir.

Formula rahasia Malin Kundang terkuak setelah ditemukan sisa- sisa cairan yang terdapat pada botol, terkubur secara aman, tak jauh dari batu Malin Kundang.

Pada label botol tersebut tertulisdengan jelas “FOR: Malin” yang artinya “untuk Malin”. Penduduk sekitarnya -dan rakyat Indonesia pada umumnya- biasa menyebut “formalin” yaitu sebuah resep rahasia nenek moyang yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, namun karena kenaikan harga
BBM dan krisis yang berkepanjangan, formalin saat ini lazim dipakai untukmengawetkan tahu, ikan asin, bakso, mie basah dan tentu
saja … mayat, seperti dapat terlihat pada batu Malin Kundang yang masih tetap awet sampai sekarang di tanah Minang.November 27,2012 Sumber dari https://auliahn.wordpress.com/2012/11/27/oxford-university/

Catatan Saya

*Laporan diatas – Misteri Batu Malin Kundang terpecahkan di Oxford University- saya pribadi (Author)menganggap ini adalah sebuah lelucon dari kalimat “For: Malin” yang artinya untuk malin lalu diplesetkan ke Formalin.

Saya sudah mencari data akurat dari University of Oxford, saya tidak menemukan sumber apapun.Sebaliknya saya menemukan para Blogger memposting dengan kalimat dan isi yang sama hasil dari copy paste .Jadi intinya adalah ” Rumor” (Pare)

Sabtu, 17 November 2012 16:02 WIB

Padang, (ANTARA) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang menganggarkan dana untuk renovasi fasilitas objek wisata Pantai Air Manis sebesar Rp2 miliar dalam APBD 2013.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Asnel di Padang, Sabtu, menyebutkan alokasi dana tersebut untuk membenahi Batu Malin Kundang dan pembenahan fasilitas pendukung lainnya di objek wisata Padang Air Manis.

“Kita melihat batu Malin Kundang banyak yang rusak akibat tergerus abrasi pantai. Pembangunan batu Malin Kundang direncanakan tahun 2013,” kata Asnel. Seperti yang dilansir dari http://www.antarasumbar.com/berita/6616/rp2-miliar-untuk-benahi-pantai-air-manis.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s